Sosial  

Hasil Galang Dana, PMII Pamekasan Serahkan Bantuan 20 Juta dan Sembako untuk Ponpes Tertimbun Longsor

PAMEKASAN. Pengurus dan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan menyerahkan bantuan sebesar 20.100.500 dan sembako untuk pesantren tertimbun longsor di Pamekasan. Selasa, (02/03/2021).

Bantuan tersebut merupakan hasil penggalangan dana yang di lakukan pengurus dan kader PMII Pamekasan selama dua hari di sejumlah ruas lampu lalu lintas di Kabupaten Pamekasan.

Ketua PMII cabang Pamekasan, Moh Lutfi mengatakan, aksi kemanusiaan dilakukan sebagai wujud kepedulian PMII Pamekasan terhadap korban bencana tebing longsor yang menimpa sejumlah santri Pondok Pesantren An-Nidhomiyah, Desa Bindang, Kecamatan Pasean, Rabu (24/2/2021).

BACA JUGA:  Patuhi Prokes dan Kampanye 3M, Jurnalis Center Pamekasan Beri Reward Bani Food Court

Dikatakannya, hasil penggalangan itu akan disalurkan kepada Ponpes An-Nidhomiyah agar bangunan pesantren yang rusak akibat tanah longsor dapat segera dibangun kembali sehingga kegiatan pesantren dapat kembali berjalan seperti sedia kala.

Menurutnya, musibah tersebut merupakan musibah bagi seluruh elemen masyarakat Pamekasan termasuk bagi seluruh kader PMII Pamekasan.

BACA JUGA:  RIDERS Motor MPC Pemuda Pancasila kota Pekanbaru Menjadi Sahabat Masyarakat

Pihaknya berharap, dengan bantuan yang ala kadarnya itu, pembangunan Ponpes An-Nidhomiyah bisa segera dilaksanakan.

Selain itu, pihaknya berharap agar bencana serupa tidak terjadi kembali di bumi gerbang salam.

“Atas nama seluruh kader PMII Pamekasan, kami sangat berduka. Mudah-mudahan segelintir bantuan yang kami haturkan untuk korban bencana bisa meringankan beban para korban,” tandasnya.

BACA JUGA:  Ansor Sana Laok Pamekasan bersama PSBB dan JCP khitan Gratis 20 Anak

Informasi tambahan, bencana tebing longsor terjadi di Dusun Jepun, Desa Bindang Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan, Madura pada Rabu (24/2/2021) dini hari.

Gerusan tanah terjal menimbun bangunan musala dan dua kamar santri putri Ponpes An-Nidhomiyah.

Akibatnya, lima orang santriwati meninggal dunia. Serta, dua orang santri lainnya selamat, namun satu di antaranya mengalami patah tulang.